1 Komentar

Kiat Surabaya “Melawan” Banjir

Musim penghujan telah tiba. Jakarta pun mulai disesaki dengan genangan air. Banjir adalah momok. Tak hanya bagi Jakarta, tapi juga bagi kota-kota lain. Surabaya merupakan salah satu kota yang tergolong sukses mengantisipasi banjir. Tulisan ini merupakan beberapa kiat kota-kota besar di negeri kita berkelit dari banjir. Ada yang masih berupa ide. Ada yang sudah diterapkan. Ini hanya sebuah catatan, yang pernah dimuat di sebuah majalah bertemakan infrastruktur.

Oh ya, sebagian isi tulisan ini adalah hasil bincang-bincang dengan Cak Bambang DH, Walikota Surabaya, ketika saya ke Surabaya tahun lalu. Thanks Pak Bambang… 🙂

Surabaya telah berubah. Setidaknya, kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta ini serius membenahi dirinya, termasuk pembenahan sistem pengendalian banjir. Memang, bukan berarti kota ini sudah bebas banjir seratus persen, tapi setidaknya skala banjir yang masih melanda di beberapa kantong wilayah di kota ini sudah jauh berkurang.

Satu hal yang tergolong istimewa dari kiat kota ini mengendalikan banjir adalah keputusan Walikota Surabaya, Bambang D.H. untuk menyusun ulang master plan drainase kota.

“Bagi saya, master plan adalah ruh dari pembangunan Surabaya. Di bidang pengendalian banjir, saya bersinergi dengan para ahli dari ITS Surabaya dan Belanda, yang dulu merancang sistem pematusan kota ini,” ungkap Bambang D.H. kepada saya dalam sebuah kesempatan di Surabaya. Walikota yang visioner ini menerima saya di kantornya.

Hasilnya, sebuah master plan, yang kemudian dikenal sebagai membentuk Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) tersusun.

“Master plan ini merupakan rencana besar sistem drainase jangka panjang untuk menekan banjir di kota ini,” simpul Cak Bambang tentang rencana induk sistem drainase kota, yang dihasilkan itu.

Selama proses penyusunan master plan itu, sebagai seorang walikota, Cak Bambang sempat terhenyak. Menurut rekomendasi rencana induk itu, ternyata beberapa jaringan saluran di Surabaya terdeteksi tidak tembus laut. Kok bisa?

“Tidak tembus laut itu dalam arti karena kali-kali yang ada di Surabaya seperti sungai Kebonagung, sungai Bokor, sungai Wonorejo, dan sebagainya semakin mendekati muara kok lebar sungai-sungai itu semakin menyempit,” kenang ia.

Fenomena itu ternyata benar adanya. Bahkan, sebelum tahun 2004 lalu, ada muara sungai yang lebarnya hanya tinggal dua meter saja. Nah, kondisi itu, tentu saja menimbulkan terjadi efek bottle neck (melambat), yang pada akhirnya menimbulkan genangan di kota.

Cak Bambang segera ambil tindakan: mulai tahun 2004 muara-muara sungai yang menyempit itu direhabilitasi. Hasilnya, lebar muara-muara sungai itu, dari yang hanya memiliki lebar 2 sampai 3 meter sekarang menjadi rata-rata 15 meter hingga 20 meter.

Tak cukup sampai di situ, pembenahan juga merambah hingga ke saluran-saluran riool peninggalan Belanda. Salah satunya  riool bikinan Belanda di Jalan Embung Malang yang sudah puluhan tahun tidak pernah dikeruk. UPerlu waktu dua tahun ntuk mengeruk sedimen-sedimen di riool. Sekarang, hujan selebat apapun, daerah Embung Malang tak lagi tergenang.

Memang, sebagai sebuah kota, secara hitung-hitungan analisis topografis, Surabaya akan selalu dalam ancaman bayang-bayang banjir. Jika dilihat dari topografi Surabaya, sekitar 40 persen wilayah kota ini berketinggian di bawah permukaan laut. Belum lagi kontur tanah Surabaya yang banyak mengandung tanah liat sehingga tanah sulit mengikat air permukaan. Dibandingkan dengan air yang menguap karena panas matahari, air yang terserap tanah jauh lebih sedikit.

Tentu saja fakta ini menjadikan Surabaya  rentan banjir, apalagi jika musim pasang tinggi dan curah hujan yang tinggi.  Oleh karena itu, rumah-rumah pompa di kota ini pun direhabilitasi total. Mesin-mesin pompa lama diganti dengan mesin-mesin pompa baru. Saat ini setidaknya terdapat 32 rumah pompa. Selain itu, dibangun pula beberapa mechanical screen di saluran drainase utama, yang bertujuan agar air yang masuk ke sungai-sungai sudah benar-benar jernih. Jadi, jika pun sampah akan tersaring dengan mechanical screen tersebut.

Hasilnya, Surabaya kini jauh lebih siap mengantisipasi banjir. Jika pun masih ada genangan, menurut klaim Cak Bambang, masih berada pada tingkat yang normal: lama genangan maksimal 2 jam dengan tingkat ketinggian air di bawah 30 sentimeter.

bambang

Cak Bambang DH, Walikota Surabaya (sumber: surabaya.detik.com)

Dinas Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya mencatat bahwa luas wilayah genangan sejak tahun 2000 hingga tahun 2007 sudah berkurang hingga 29,3 persen. Pada tahun 2000, luas wilayah genangan mencapai 4.000 hektar dengan lama genangan maksimum 6 jam dan tinggi genangan hingga 60 cm. Sementara pada tahun 2007, realisasi genangan di Surabaya maksimal setinggi 27 cm dengan luas genangan 2.825 hektar dan lama maksimum genangan 3 jam.

Memang, klaim Cak Bambang tersebut masih bisa dikonfirmasi ulang. Hujan deras yang mengguyur hampir dua jam, pada hari kedelapan di tahun 2009), nyaris membuat kota Surabaya lumpuh. Setidaknya, itu hasil pantauan Harian “Surabaya Pagi”. Menurut koran lokal ini, bahkan ketinggian genangan air ada yang mencapai 1 meter, seperti yang terlihat di Jalan Mayjen Sungkono, Jalan Indragiri, Jalan Ciliwung, dan Jalan Kutai. Sementara itu, tinggi genangan air di bawah 1 meter, menyebar ke beberapa titik, seperti di Jalan Majapahit, Jalan Raya Darmo, Jalan Dharmawangsa, Jalan Klampis Semolo, Jalan Tenggilis, Jalan Arif Rahman Hakim, Exit tol Dupak, Jalan Rungkut, Jalan Kalianak, Exit tol Banyuurip, Jalan Girilaya, Jalan Margorejo, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kendangsari, Jalan Semolowaru Utara, Jalan Pandugo, Jalan Penjaringan Sari, Jalan Kupang Indah, Jalan Margorejo Masjid, Jalan Kedung Baruk, Jalan Manyar, dan Jalan Tambaksari.

“Wah, kok masih banjir ya. Padahal, yang saya dengar anggaran untuk mengatasi banjir di Surabaya hampir 1 triliun,” nilai Riga, salah seorang mahasiswa Universitas Airlangga kepada Kiprah. Angka yang disebutkan Riga, memang terlalu tinggi. Namun, alokasi anggaran Kota Surabaya untuk penanganan banjir memang cukup fantastis. Menurut Data Dinas Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya, anggaran yang disiapkan untuk menangani banjir pada 2002-2010 mencapai Rp 900 miliar. Wow.

***

Bagi saya, Surabaya merupakan salah satu kota metropolitan yang cukup sukses meredam daya rusak air dalam bentuk banjir. “Memang, masih banyak masyarakat yang sulit memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota. Barulah ketika hujan lebat datang, Jakarta terendam banjir sementara Surabaya tidak, apresiasi itu datang,” lanjut Walikota Surabaya, Cak Bambang D.H.

Lalu, bagaimana dengan kota-kota lain selain Surabaya? Semarang, misalnya, yang Februari lalu terkepung banjir. Bahkan, sempat terisolasi. Yang tidak kalah seru, Semarang punya pola banjir rob yang tak kunjung tuntas. Meski menjadi masalah yang setiap tahun terjadi, banyak akademisi menilai bahwa hingga kini belum ada pola penanganan banjir dan rob yang dilakukan terpadu, sistemik, berkesinambungan, dan terencana dalam jangka waktu yang panjang.

Padahal bisa dikatakan persoalan publik paling krusial di kota ini seputar banjir dan rob. Dalam bahasa yang ekstrem, Pemkot Semarang tidak perlu repot-repot berpikir pada persoalan-persoalan yang lain. “Cukup” berpikir tentang solusi banjir dan rob saja. Apabila banjir dan rob tersebut dapat diatasi, itu akan menjadi sebuah prestasi yang monumental dan akan dikenang sepanjang sejarah oleh seluruh warga kota kita ini.

Apalagi, sepertinya belum ada politicall will yang utuh dari elit politik Semarang untuk melawan rob dan banjir yang sudah terlanjut menjadi momok bagi warga Semarang itu. Buktinya, untuk mengatasi banjir dan rob, Panitia Anggaran DPRD Kota Semarang hanya mengalokasikan dana Rp 5 miliar. Padahal, untuk mengatasi banjir dan rob secara kaffah, utuh menyeluruh, paling tidak dibutuhkan dana sekitar Rp 25 miliar.

Ini berarti daerah yang akan bisa diatasi hanya berkisar 20 persen saja dari semua daerah yang rawan banjir dan rob,” tulis Surachman Nugroho, seorang aktivis mahasiswa, yang juga warga Wonodri Baru Atas, Semarang, dalam sebuah kolom. Berkaca dari anggaran penanganan banjir saja, Semarang kalah jauh dari Surabaya, yang mencapai Rp900 miliar untuk delapan tahun anggaran.

Jakarta Masih Akan Banjir?

10387
kartun dicomot dari: inilah.com

 

Bagaimana dengan Jakarta? Jika dibandingkan dengan peristiwa banjir besar Februari 2006 lalu, meski banyak daerah langganan banjir di Jakarta masih terendam banjir pada musim-musim penghujan, tahun ini Jakarta juga sudah relatif berhasil mengurangi potensi banjir di beberapa titik. Di jembatan Kalibata, misalnya, yang dilintasi sungai Ciliwung, sejak dua tahun lalu dua buah alat berat tampak selalu siaga. Baguslah, sudah tidak separah dulu.

Ya, alat berat itu secara rutin mengeruk sampah-sampah Ciliwung yang biasanya tertambat di tiang konstruksi jembatan. Tiga tahun lalu, sewaktu Jakarta tenggelam oleh banjir, puluhan rumah di kawasan ini rusak berat diterjang banjir. Pola ini tampaknya diterapkan di beberapa titik lokasi rawan banjir.

Memang, pola antisipatif yang diterapkan Jakarta dengan melakukan pengerukan sampah dan sedimentasi sungai itu hanya bersifat lokal. Artinya, tak akan mampu menuntaskan persoalan besar banjir Jakarta. Lantas, seperti apa desain besar Pemprov DKI Jakarta untuk melawan banjir?

Bang Fauzi Bowo pernah sesumbar bahwa skala ancaman banjir yang mengancam Jakarta akan berkurang hingga 75 persen pada tahun 2016—atau sekitar  mendatang tujuh tahun ke depan. Pengurangan itu, 40 persen di antaranya berasal dari program pengerukan 13 kali dan 56 saluran serta Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB). Sebagai catatan, BKT dan BKB ditargetkan akan berfungsi mulai tahun 2011. Sementara itu, 35 persen pengurangan banjir lain akan dicapai melalui program pembangunan saluran terowongan penghubung antara BKT dan BKB, rehabilitasi waduk dan situ, serta pembangunan Waduk Pluit.

Jika ukurannya dana, Jakarta memang jagoan. Kata Bang Fauzi Bowo, untuk mengurangi banjir di Jakarta itu, untuk pengerukan 13 kali yang akan dimulai April mendatang saja akan menghabiskan biaya 150 juta dollar AS, yang 5 juta dollar AS di antaranya dialokasikan untuk pembelian alat keruk besar. Dana pengerukan 13 kali ini menggunakan dana pinjaman dari Bank Dunia.

Pada tahap selanjutnya,  Pemprov DKI juga akan melakukan pengerukan terhadap 56 saluran air. Bedanya, program ini menggunakan dana dari APBD DKI 2009 sebesar Rp 199,5 miliar. Pengerukan ini penting karena hampir seluruh saluran di Jakarta tertutup lumpur.

“Lumpur itu harus kita keruk. Jika sudah dikeruk memungkinkan daya tampung masing-masing saluran dapat kembali pada volume semula,” kata Fauzi Bowo.

Program pengerukan kali dan drainase tersebut ditargetkan selesai tahun 2011 beriringan dengan selesainya pembangunan BKB dan BKT. Dengan begitu, maka tekanan banjir di Jakarta akan bisa dikurangi sebanyak 40 persen. I

Pemprov DKI Jakarta juga akan membuat saluran terowongan penghubung antara BKB dan BKT, rehabilitasi waduk dan situ, serta pembangunan Waduk Pluit. Ketiganya ditargetkan selesai pada tahun 2016.

“Ini bukan mimpi, tetapi sudah ada perhitungannya. Sekali lagi masyarakat harus membantu dengan tidak buang sampah di saluran yang sudah dibersihkan,” ajak Bang Fauzi Bowo.

One comment on “Kiat Surabaya “Melawan” Banjir

  1. menarik mas. soal banjir hampir-hampir tak terselesaikan. bahkan seperti adagium, sekali wilayah terkena banjir, tak kan dapat mengelak tahun2 setelahnya….

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: