7 Komentar

Ridwan Kamil: Konsultan Bukan Tukang Gambar

Arsitek lulusan Berkeley ini masih tergolong muda. Usianya baru 38 tahun. Namun, reputasinya dalam bidang urban desain tergolong meyakinkan. Bersama perusahaan konsultan Urbane Indonesia, Emil—begitu ia biasa disapa—dipercaya menggarap master plan dan urban design guidelines sebuah kawasan superblok Beijing Financial Street.

Distrik berisi 35 blok itu, dipadati seribu kantor institusi keuangan lokal dan internasional serta dilengkapi fasilitas turis, seperti hotel dan pusat belanja. Selain di Negeri Panda, buah karya Urbane, yang dimotori Ridwan Kamil itu bertebaran di sejumlah negara. Sebut saja Singapura, Hong Kong, Thailand, Vietnam, Mesir, Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat. Menurut sebuah sumber, omset Urbane Indonesia bisa mencapai Rp 8 milyar per tahun. Wow…

Tidak heran, jika nama dosen arsitektur di Institut Teknologi Bandung ini menjadi semacam ikon daru dalam komunitas urban desain di Indonesia. Selain mahir berkreasi, ia juga aktif menulis tentang isu-isu perkotaan.

Atas dasar itulah, Majalah KIPRAH tempat di mana saya ngamen sebagai penulis sekaligus editor mewawancari salah satu penggiat gerakan Green Cities di negeri ini itu. Nah, ini hasil obrolan saya dengan Emil. Semoga bermanfaat.

Sebagai seorang konsultan, yang dalam istilah lain disebut sebagai penyedia jasa dibidang konsultasi dan konstruksi, seperti apa Anda mengamati dinamika kerja dunia konsultan di negeri ini?

Di mata saya, negeri ini sebenarnya dipenuhi orang pintar tapi sayang sistem di negeri ini sistem di negeri ini tidak membuat orang menjadi cerdas dan kreatif. Di dunia konsultan arsitektur, misalnya, banyak sekali ide-ide yang menarik tapi kemudian mampat karena dipreteli prosedur, dipreteli kejar tayang, atau dipreteli oleh sistem penunjukan konsultan yang tidak jelas.

Maksudnya tidak jelas, bisa lebih spesifik?

Kita tahu, masih saja ada pola penunjukan konsultan yang berdasarkan harga termurah, seperti pengadaan barang saja. Padahal, semestinya tidak begitu. Ide tidak bisa diukur dengan uang. Jadi, saya usul kepada Pemerintah supaya pelaksanaan tender-tender jasa konsultan jangan memilih pemenang berdasarkan yang termurah, tapi atas dasar ide yang terhebat.

Bukankah sekarang ini sistem semacam itu sudah tidak berlaku. Artinya, kualitas usulan teknis memiliki bobot nilai paling besar. Tidak lagi semata penawaran harga terendah?

Ya, saya memang sudah mendengar itu. Tapi jujur, akibat pola lama itu sebagian besar konsultan perencana seperti kami jadi malas membantu proyek-proyek pemerintah. Betapa tidak, kami sudah menguras segala kemampuan untuk melahirkan ide cemerlang, tetapi kalah karena hanya selisih seperak dua perak. Kabarnya Anda menjadi perencana bagi Kota Surabaya.

Apa alasan Anda mau bersinergi dengan Pemerintah Kota Surabaya. Apakah ada pengecualian?

Sungguh, saya biasanya menolak tawaran kerja sama dari Pemerintah. Urbane banyak menolak tawaran dari Pemerintah Daerah. Jika kemudian kami mau membantu Surabaya, itu karena persyaratan dari saya dipenuhi. Simpel: saya ingin berdiskusi langsung dengan Walikota selaku pengambilan keputusan. Saya sudah bosan dengan proses birokrasi yang berbelit dengan berbagai urusan disposisi yang tidak efektif. Jujur, dari sekian proyek kami yang berkaitan dengan Pemerintah, Surabaya merupakan yang paling terbuka. Ada dialog cerdas di sana antara kami dan Walikota Surabaya. Anda bisa lihat hasilnya sekarang: Surabaya panen penghargaan di bidang pengelolaan perkotaan, bukan? Bisakah disimpulkan bahwa Anda lebih tertarik bekerja untuk swasta?

Bukankah tata laksana proyek di swasta juga banyak menyimpan kepicikan di sana-sini?

Memang. Hal ini sangat berkaitan dengan etika bisnis di Inonesia yang masih rendah. Masih banyak yang berpikir bahwa konsultan atau arsitek itu tukang gambar, jadi bisa dibayar seenaknya. Banyak pengusaha yang minta dibuatkan gambar desain dulu sebelum kontrak. Jika dianggap cocok, deal. Jika tidak, good bye. Sedihnya, setelah dianggap tidak cocok, lalu good bye, tapi desain kita dicuri idenya.

Sebagai konsultan yang banyak mengerjakan proyek di luar negeri. Seperti apa garis besar proses kesepakatan antara konsultan dan pengguna jasa (owner)?

Di luar negeri tanda tangan kontrak dulu baru ada gambar. Itu pengalaman saya. Dasar kesepakatan adalah kepercayaan. Saat ini, isu pembangunan berwawasan lingkungan sedang hangatt-hangatnya.

Seperti apa Anda memaknai pengembangan green cities, yang di dalamnya mencakup elemen green construction?

Prinsip saya dalam memandang sebuah kota sederhana: kota adalah cermin peradaban. Peradaban sebuah masyarakat bisa tercermin dari bagaimana cara masyarakat itu menangani kotanya. Nah, green building hanyalah salah satu elemen pembentuk green cities itu. Namun green building hanya akan tercipta jika sejak awal sebuah kota memang direncanakan dengan benar. Konteks green, di mata saya, adalah efektivitas dan penghematan: menghemat pergerakan warga kota, menghemat penggunaan lahan hingga menghemat penggunaan energi. Omong kosong konsep green bisa terwujud jika tidak disertai transportasi publik yang bisa mengerem orang berkenderaan pribadi, yang sangat boros energi itu.

Maksud Anda telah terjadi semacam salah kaprah dalam memahami konsep green?

Ya. Salah kaprah jika menempatkan fokus green itu hanya pada bangunannya. Bangunan hanya salah satu elemen, yang kemudian lebih familiar dengan sebutan green building, yang dimensinya sangat teknis, seperti bagaimana menghemat air hingga me-recycle-nya; bagaimana mengurangi konsumsi listrik dengan lampu hemat energi hingga nenurunkan suhu kota dengan desain atap yang ramah lingkungan. Menurut penelitian, konsep green roof, bisa menurunkan suhu kota hingga 1 sampai 2 derajat celcius. Dalam konteks green building, atap atap baja atau genteng memang dihindari. Atap datar yang ditanami tanaman dan rumput, memang lebih direkomendasikan. Logikanya, hijauan itu memproduksi oksigen, yang bisa memacu suhu menjadi lebih rendah.

Apa kritik Anda terhadap bangunan-bangunan gedung di kota-kota di Indonesia?

Sungguh, saya resah melihat atap bangunan-bangunan besar yang penuh dengan mesin-mesin ME. Bayangkan, mesin-mesin itu senantiasa melontarkan hawa panas ke udara. Jika ada ribuan gedung yang semacam itu, bayangkan betapa besar kontribusinya pada suhu kotanya yang semakin panas. Penerapan teknologi yang mendukung green construction konon membuat biaya pembangunan gedung membengkak. Itu yang membuat para pemilik gedung enggan menerapkan konsep tersebut? Saya kok lebih condong untuk tidak berbicara penerapan teknologi itu pada kasus Indonesia. Betul, jika di luar negeri penerapan konsep green itu bisa dijawab dan diselesaikan dengan teknologi, karena mereka mempunyai dollar yang berlimpah. Tapi Indonesia? Jelas terlalu berat. Jadi, saya lebih suka bicara penerapan konsep green dengan mengubah perilaku dan gaya hidup warga, bukan dengan pendekatan teknologi. Ya itu tadi, seperti gaya hidup sehat, misalnya lebih memilih berjalan kaki di pedestrian ketimbang naik motor atau mobil. Memang, sekali lagi, hal ini harus diawali dengan sebuah konsep penataan kota yang berwawasan green. Sebagai konsultan, Anda tentu sering merekomendasikan konsep desain green building. Seperti apa tanggapan klien? Memang, biaya pembangunan bangunan dengan konsep green building lebih mahal. Tapi, menurut sebuah penelitian di Singapura hanya 5% saja, tidak sampai 20% hingga 30% lebih mahal seperti yang didengung-dengungkan itu. Mahal karena sistemnya kacau. Tidak sedikit klien yang gagal saya yakinkan. Jika dirata-rata, hanya 20% saja yang bersedia menerapkan konsep green building itu.

Baca juga:

7 comments on “Ridwan Kamil: Konsultan Bukan Tukang Gambar

  1. i love green…
    maklum para punggawa kita itu pada salah didikan, bukan salah bundanya mengandung…

  2. Wawancara yang menarik nih. trims

  3. dari ulasan anda diatas jadi bimbang mau tanya harga dihitung dengan dasar apa ( luasan, volume atau parameter yang lain ) untuk haraga jasa konsultan konstruksi atau arsitektur.
    Karena saya sering terlalu murah menawar konsultan karena invoicenya berdasar man days atau man month.

  4. wawancara yang menarik. mohon ijin untuk memuat wawancara ini di website kami ya..

  5. @Farid: monggo, silahkan Mas Farid, dengan senang hati..

  6. setuja kang Ridwan!,terimakasih kolomnya mas Sofwan
    kita bahu membahu dari berbagai sudut ya,
    menghantarkan alam Nusantara ini kembali hijau sebaik mungkin.salam

  7. Artikelnya menambah wawasan dunia Arsitektur. Memang Arsitek jangan sampai terjebak menjadi ‘Tukang gambar plus-plus’ 🙂 http://arsdesain.com/architect-vs-vampire/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: