1 Komentar

Berkibar di Negeri Orang

Ini tentang prestasi orang Indonesia di luar negeri. Ternyata, banyak kok orang Indonesia di luar negeri yang tampil prima. Bahkan, memimpin ekspatriat bule. Artikel ini saya tulis untuk Majalah KIPRAH edisi 31 terbitan Puskom PU.

Seorang ekspatriat asal Indonesia tampak sedang memberikan pengarahan kepada beberapa eksekutif di sebuah perusahaan minyak dan gas milik yang bermarkas di Qatar. Muhammad Ilyasak, nama pria itu. Lelaki jebolan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung itu adalah seorang senior project engineer, yang bertanggung jawab penuh terhadap pembangunan sebuah kilang migas di Qatar. Di sana, ia membawahi puluhan insinyur asing multibangsa.

Masih di Timur Tengah, perusahaan kontraktor Waskita Karya dan Wijaya Karya (Wika) super sibuk menyelesaikan berbagai proyek konstruksi berupa proyek-proyek pembangunan infrastruktur, bangunan gedung, pabrik, dan pembangkit listrik. Bahkan di Aljazair, perusahaan BUMN ini juga telah merampungkan sebuah proyek pembuatan balok jembatan dan pembangunan jalan sepanjang 400 kilometer. Dalam proyek ini, Wika bekerja sama dengan konsorsium Coajal asal Jepang. Pada akhir tahun 2007 saja, nilai total proyek Wika di luar negeri telah mencapai US$ 60 juta.

Tak hanya komunitas kontraktor nasional yang berjaya menembus batas wilayah negara. Sebuah perusahaan konsultan yang bermarkas di pojokan Dago juga berhasil menembus batas itu dengan menggaet klien di mancanegara. Urbane Indonesia, yang didirikan oleh Ridwan Kamil, merupakan perusahaan konsultan di balik desain kawasan yang kini dihuni berderet-deret gedung pencakar langit di jantung bisnis Kota Beijing, Cina. Beijing Financial Street, begitu nama distrik berisi 35 blok itu, yang dipadati seribu kantor institusi keuangan lokal dan internasional serta dilengkapi fasilitas turis, seperti hotel dan pusat belanja itu. Memang, Urbane tak sendirian dalam proyek perancangan itu. Perusahaan ini digandeng sebuah firma arsitektur internasonal Skidmore, Owings & Merrill. Selain di Negeri Panda, buah karya Urbane, bertebaran di sejumlah negara. Sebut saja Singapura, Hong Kong, Thailand, Vietnam, Mesir, Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat.

Ridwan Kamil--prinsipal Urbane Indonesia

Ridwan Kamil--prinsipal Urbane Indonesia


Ya, kisah tentang Muhammad Ilyasak, Urbane Indonesia dan Wijaya Karya hanyalah segelintir dari insan jasa konsultan dan konstruksi asal Indonesia yang menabur karya di luar negara. Baik Ilyasak maupun Ridwan Kamil percaya, kualifikasi tenaga profesinal asal Indonesia tidak kalah dengan pekerja asal negara-negara lain.

Bahkan, menurut pengakuan Ilyasak, perusahaan-perusahaan di Timur Tengah cenderung nyaman dengan budaya kerja orang Indonesia yang “tidak neko-neko”: tak banyak bicara dan ulet. Pernyataan Ilyasak itu jelas menggugat fenomena sosial yang justru bertolak belakang di negeri sendiri. Kesan yang berkembang, para pekerja konstruksi di Indonesia cenderung tidak qualified.

Menurut Davy Sukamta, budaya kerja para pekerja konstruksi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nation character building serta sistem upah dan kerja yang berlaku di negeri ini. “Bagaimana orang mau disiplin di tempat kerja jika dia tidak bisa disiplin di rumah dan di jalan raya,” sindir Davy. Mental dan budaya sosial itu, bagi Davy, punya kontribusi besar terhadap mental perorangan para pekerja konstruksi. “Memang persoalan upah juga penting. Gaji bagus, pasti pekerjaan bagus. Namun sebaliknya, pekerjaan bagus, belum tentu gaji bagus,” ungkapnya.

Proyek PT. Wijaya Karya di Dubai

Proyek PT. Waskita Karya di Dubai

Masih dalam konteks ini, Joko Lambang, yang seorang praktisi konstruksi dari PT. Pembangunan Perumahan pernah bercerita tentang seorang pekerja konstruksi asal Australia yang sengaja didatangkan ke Indonesia untuk berbagi pengalaman. Di negeri asalnya Australia, pekerja konstruksi itu dibayar dengan rate per jam, yang jika dirupiahkan bisa mencapai Rp30 juta per bulan. Wow!!!

Tapi, menurut pandangan Joko Lambang, kinerja ‘kuli asing’ itu memang luar biasa. Dengan perlengkapan pertukangan modern yang relatif lengkap, ia bisa mengerjakan pekerjaan konstruksi yang di Indonesia biasa dikerjakan oleh lima orang pekerja. “Kualitasnya pun prima,” ungkap Joko.

Dalam konteks serupa, para pekerja konstruksi yang bekerja di luar negeri ternyata juga ‘berevolusi’ menjadi pekerja-pekerja konstruksi yang trampil dan handal. Sebagai gambaran, 80 % pekerja konstruksi di Malaysia berkebangsaan Indonesia.

“Performa para pekerja konstruksi kita yang bekerja di luar negeri tidak seperti tukang-tukang yang bekerja di proyek-proyek lokal. Jauh 180 derajat,” ungkap seorang praktisi konstruksi yang tidak ingin disebut namanya.

One comment on “Berkibar di Negeri Orang

  1. proyek Wijaya Karya, foto Waskita Karya. Biar tetanggaan, tapi ya ga bisa gitu kayaknya… hehehe
    ***********

    Kalipaksi:
    Ooops…maaf. Salah foto ya. Oke deh, saya perbaiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: