Di Balik Gembar Gembor Kasus Panji Gumilang #3

7 Komentar

Setelah tulisan Episode Pertama dan Episode Kedua maka  Episode Ketiga ini  akan lebih menjawab tentang isu yang berkembang di kalangan internal NII Al-Zaytun dan MIM-ers (penggiat ormas Masyarakat Indonesia Membangun) bahwa motivasi Imam Supriyanto melaporkan Panji Gumilang ke Mabes Polri adalah dalam rangka merebut aset Al-Zaytun.  Pendapat itu jelas SALAH. Sama sekali TIDAK BENAR.

Dari hasil diskusi dengan Imam Supriyanto (IS), saya memperoleh penjelasan bahwa langkah-langkahnya ‘melakukan perlawanan’ terhadap Panji Gumilang bukan untuk merebut aset Al-Zaytun, yang secara fisik diperkirakan mencapai angka Rp 1,4 triliun. Langkah Imam Supriyanto sesungguhnya merupakan bagian dari respon suara kader-kader Al-Zaytun, baik yang ada di teritorial, MIM, maupun yang masih berkhidmat di Kampus Al-Zaytun yang sudah semakin resah dengan kepemimpinan Panji Gumilang yang semakin tidak terarah, individual, egoistik, dan tidak berorientasi pada produktivitas yang bermuara pada kesejahteraan umat/kader.

Langkah IS ‘melawan’ Panji Gumilang pun tak dilakukan sendirian tapi berkoordinasi dengan para aktivis  Al-Zaytun yang masih aktif, baik di level teritorial  maupun Pusat, serta para veteran eksponen yang masih peduli terhadap nasib Al-Zaytun. Bagaimanapun, Al-Zaytun dibangun dengan hasil perasan keringat para kader yang berjuang tanpa pamrih, bukan?

Mari sedikit kilas balik, sejak awal dekade 1990-an, berpuluh ribu kader bergotong royong melakukan aksi juang yang pada akhirnya mampu membeli lahan tandus di  Gantar, yang menjadi arena pembangunan Kampus Al-Zaytun. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian menjadi ‘miskin’ karena memutuskan untuk “all out” berjuang. Tapi apa yang terjadi? Tidak terjadi distribusi kesejahteraan yang merata. Sementara banyak kader di level akar rumput menjadi ‘tidak sejahtera’, beberapa oknum kader di ‘puncak piramida kekuasaan’ justru menikmati fasilitas yang sulit dijangkau kader-kader akar rumput. Korupsi juga meraja lela. Sudahlah, bagi Anda pembaca artikel ini, yang mungkin masih aktif di struktur NII Al-Zaytun atau Ormas MIM, saya yakin hati nurani tidak akan menyangkal bahwa telah terjadi praktik korupsi yang akarnya sudah mulai sulit dicerabut.

Sebagai pribadi yang pernah ikut terlibat dalam dinamika pergerakan NII Zaytun selama 15 tahun, serta pernah dekat dengan Panji Gumilang, saya sepakat jika dilakukan REFORMASI mendasar pada kelompok ini. Sedihnya, REFORMASI akan sulit dilakukan selama Panji Gumilang tidak mau membuka diri. Melalui tulisan ini saya bertanya: sudikah atau beranikah Panji Gumilang DIAUDIT oleh auditor independen? Tentu saja proses audit itu melibatkan para elite veteran sebagai narasumber.  Khususnya, para elit veteran yang tahu betul aliran arus kas (cash flow) penggunaan dana-dana dan distribusi penguasaan aset-aset yang bersumber dari dana infaq kader dan pos-pos penerimaan lain.

Nah, dalam rangka melahirkan REFORMASI itulah, Imam Supriyanto mengambil langkah oposisi terbuka terhadap Panji Gumilang. Ia telah menyatakan kepada elit-elit veteran maupun elit yang masih aktif di dalam struktur bahwa:

…. jika pun perjuangannya berhasil, Ia tidak akan kembali ke Al-Zaytun untuk menggantikan Panji Gumilang atau menjadi bagian dari kepemimpinan baru. Imam Supriyanto akan menyerahkan sepenuhnya kepemimpinan Al-Zaytun pada kader-kader yang amanah, yang kelak diharapkan akan mampu membawa kesejahteraan kepada segenap kader…

Jika Anda tidak percaya, silahkan bertemu langsung dengan Imam Supriyanto. Tanyakan secara lugas, komitmennya seperti yang  telah saya tulis dalam artikel ini.

………….. (bersambung)

Di Balik Gembar Gembor Kasus Panji Gumilang #2

Tinggalkan komentar

Pada tulisan episode #1 (sila buka link) telah saya sebutkan bahwa pada suatu pagi di kediaman Panji Gumilang di Gandul, Depok telah terjadi dialog empat mata antara saya dan Panji Gumilang tentang prediksi masa depan NII.

Dialog itu bermula dari kegelisahan saya, yang waktu itu masih merupakan seorang kader NII, tentang arah gerakan/perjuangan yang tampaknya semakin bias, janggal, dan disorientasi.

Pagi itu, refleks saya seperti mengomando untuk memanfaatkan situasi. Ketika itu, hanya ada saya dan Panji Gumilang. Beberapa pemimpin NII lain, termasuk H. Imam Supriyanto (yang belakangan sering muncul di televisi dan mengungkap jati dirinya sebagai mantan Menteri Peningkatan Produksi NII) masih tidur. Yah, malam sebelumnya, kami memang terlibat diskusi hingga larut malam.

Oh ya, ini menjadi semacam kata kunci jika ingin berdialog dengan Panji Gumilang: “jangan tanyakan hal sensitif di depan banyak orang. Ia bisa murka”. Nah, karena pagi itu hanya ada saya dan Panji Gumilang, saya pun memberanikan diri untuk berdialog tentang hal yang sangat sensitif, tapi urgent. Tentu saja, saya awali dialog pada pagi itu dengan terlebih dahulu membuka diskusi tentang hal ihwal pertanian dan peternakan (dua hal yang sangat ia gadrungi).

Pertanyaan saya sederhana:

“Syaykh, bagaimanakah masa depan NII kelak? Di satu sisi, sifat gerakan kita (baca: NII) sangat eksklusif. Bahkan, dari sisi nama pun sangat eksklusif. Namun, di sisi lain, kita sekarang masuk pada wilayah pergerakan yang sangat inklusif. Jujur, teman-teman di akar rumput, mulai gelisah dengan kontradiksi ini. Mereka bingung?”

Mendengar pertanyaan itu, Panji Gumilang sempat berpikir sejenak. Tak seperti biasa, jawabannya kepada saya kurang memuaskan. Ia menjawab begini:

“Perjalanan NII masih sangat panjang. Ana hanya mencoba untuk mengembalikan NII kepada jalur yang benar. Soal kelak umat harus bagaimana, dan NII akan menjadi apa, kelak kitalah yang akan memutuskan. Kita itu siapa? Ya…kita. Kita yang sekarang ini masih aktif, tentu saja dalam perwakilan, dan kita yang pernah berjuang bersama-sama tapi sekarang tidak lagi berada di dalam barisan.”

Saya sanggup mempertanggungjawabkan bahwa dialog ini pernah terjadi. Nah, jika kemudian ada para ‘mantan’ NII yang hendak mencoba menyelamatkan jamaah NII dari kehancuran serta menyelamatkan hasil perjuangan ratusan ribu nyawa dari “kecenderungan penguasaan secara tidak proporsional oleh Dinasti Rasyidi”, semoga Panji Gumilang ingat dialog tadi. Apapun, Imam Supriyanto dkk masih punya hak untuk mengembalikan hak jamaah kepada yang berhak.

……………………. (bersambung)

Di Balik Gembar Gembor Kasus Panji Gumilang #1

1 Komentar

Benarkah Panji Gumilang itu Imam NII? Secara meyakinkan 1.000 persen bisa saya jawab: Ya. Ia adalah Imam NII. Setidaknya, ia adalah Imam dari sebuah faksi NII.

Mengapa saya begitu yakin? Itu karena saya pernah menjadi aktivis NII selama 15 tahun. Kemudian, di akhir masa tugas saya, saya pernah berdialog dengan Panji Gumilang tentang masa depan NII. Dialog itu terjadi di kediaman Panji Gumilang di kawasan Krukut, Gandul, Depok. Dialog empat mata itu terjadi pada sebuah pagi. Ketika itu, saya bertugas sebagai jurnalis di Al-Zaytun.

Lalu, benarkah apa yang terjadi antara Panji Gumilang dan Imam Supriyanto adalah perebutan aset Al-Zaytun yang bernilai di atas Rp 1 triliun? SALAH!!! Dari dialog saya dengan Imam Supriyanto, yang ia lakukan justru untuk menyelamatkan aset-aset Al-Zaytun tak tampak yang dikuasai “Dinasti Rasyidi”. Dinasti Rasyidi merupakan sebutan untuk keluarga Panji Gumilang yang punya nama asli Abdussalam Rasyidi. Dalam konteks ini, puluhan miliar uang milik Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) digunakan secara sepihak oleh Dinasti Rasyidi. Dalam modus operandinya, Panji Gumilang berkolaborasi dengan Yusuf Rasyidi, adik kandungnya.

………………… (bersambung)

Pak Harto Bukan Abu Lahab

4 Komentar

Pernah aku begitu benci Pak Harto, tapi sekarang aku sadar: aku salah!

 

Pak Harto adalah pahlawan bagi para pencintanya. Aku yakin itu. Jika almarhum Bapak masih hidup, mungkin ia akan sudah ceriwis mengomentari tarik ulur pengusulan Pak Harto sebagai Pahlawan Nasional. Ia adalah seorang Soehartois (meniru istilah Soekarnois, hehe). Sebagai cah Yogjo, almarhum Bapak memang pengagum Soeharto. Sewaktu aku kecil dulu, ia selalu bercerita tentang kisah heroik Pak Harto, terutama tentang perannya dalam Serangan Umum 1 Maret, yang terkenal dengan momen Enam Jam di Jogja itu. Ia pula yang selalu mengingatkanku untuk menonton film “Janur Kuning”, yang menampilkan Kaharudinsyah sebagai Letkol Soeharto.

Tapi entah mengapa, sejak SD pun aku sudah tak suka Pak Harto. Tak obyektif, memang. Mungkin aku silau dengan pesona Margareth Tacher, Ronald Reagen, atau Lee Kuen Yeuw yang fasih ber-english ria. Juga tentang kisah Bung Karno yang fasih multibahasa. Sedangkan Pak Harto, tentu saja tidak. Ia selalu berpidato dalam bahasa Indonesia. Sebagai anak kecil, aku punya kesan: seorang presiden harus bisa berbahasa asing. Sebagai anak buruh, situasi hidup yang serba pas-pasan menambah ketakpuasanku pada keadaan, yang ketika itu identik dengan Pak Harto.

Di usia belasan tahun, persisnya 18 tahun, ketika aku dicekoki semangat perlawanan anti NKRI, lagi-lagi ketaksukaanku atas Pak Harto tambah memuncak. Apalagi ia dianalogikan sebagai Abu Lahab, pemimpin Quraisy yang memusuhi Nabi. Tentang ini, ada baiknya kuceritakan sedikit agar lebih jelas duduk perkaranya.

More

Wajahku Mirip Banyak Orang? Huff …

Tinggalkan komentar

“Di banyak kota yang pernah kusinggahi, ada saja cerita orang salah kira. Bahkan, di kotaku sendiri aku pernah ditampar  seorang supir angkot karena disangka orang lain …”

Entah sudah berapa belas kali aku disangka orang lain. Apakah karena model wajah yang dilukiskan Tuhan untukku memang pasaran? Bisa jadi. Lha, buktinya, dalam dua hari ini lagi-lagi aku disangka orang lain. Kejadian terkini tadi siang, ketika menghadiri sejenak sebuah diskusi di sela-sela even Expo Pembiayaan di Gedung SMESCO Indonesia. Seorang perempuan separuh baya menyapaku, “Apa kabar Pak Umar? Sekarang kerja di media apa?”  Ia yakin betul bahwa aku adalah Umar, seorang jurnalis bulletin internal sebuah lembaga.

Sehari sebelumnya, dalam sebuah sesi wawancara, seorang pejabat Bank Indonesia sempat menyangka aku adalah wartawan Kompas yang sudah lama ia kenal. Ketika kami berpapasan di muka lift dan saling menyapa, ia sempat bertanya pada diri:  “apakah ia (maksudnya aku) sudah keluar dari Kompas dan bekerja di Kementerian Koperasi dan UKM?”.
More

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.